Friday, May 25, 2012

sedikit kata dari "Manusia setengah salmon" ~ Pindah

Sebenernya buku ini udah lama selesai gue baca, masih kayak biasanya isinya ngocak semua. tapi ada beberapa yang gue garis bawahin, bagus menurut gue ;) ngena kali yah tepatnya:
gini katanyaaa...

Bab: sepotong hati di dalam kardus cokelat

    Ada perasaan yang sama antara sehabis putus dengan pindah rumah. Keduanya sama sama harus meninggalkan sesuatu yang akrab dengan diri kita. Keduanya sama sama memaksa kita untuk mengingat ingat kenangan yang ada sebelumnya, disadari atau tidak. Dipaksa atau tidak.
    Gue melirik ke arah nyokap, lalu menanyakan hal yang seharusnya gua tanyakan dari awal,"tapi, kenapa     harus pindah rumah sih? Bukannya rumah ini baik baik aja?" 
"dika,dika,dika" kata nyokap. dia menggelengkan kepalanya. "rumah ini udah terlalu sempit buat kita, dika. Adik adik kamu udah pada gede semuanya. Mama ngerasa keluarga kita udah terlalu besar untuk rumah ini. Kita tumbuh lebih besar daripada rumah ini jadi kita harus pindah."

    Bokap dan nyokap berbarengan masuk kamar, mereka meninggalkan gua sendirian. Tak lama gua berdiri, berjalan kearah dapur dan mencuci gelas bekas hot chocolate yang barusan gue minum.

    Mungkin ini masalahnya, pikir gue. Seperti rumah ini yang menjadi terlalu sempit buat keluarga kami, gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal yang dirasa sudah tidak lagi saling menyamankan tetap dipertahankan untuk bersama.

Mirip seperti gue dan dia.

Dan dia, memutuskan untuk pindah.

      Putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan. Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong.
    
     Sama seperti memasukan barang barang ke kardus, gua juga harus memasukkan kenangan kenangan gue dengan orang yang gue sayang ke semacam kardus kecil. Dan, sama ketika kita baru putus, kenangan yang timbul paling kuat adalah yang paling awal.

    Seperti halnya gue inget nyokap yang minta ditemenin pada hari pertama di rumah baru, gue inget sewaktu kami awal awal ketemu dulu, awal yang kayaknya begitu menyenangkan. Gue inget bagaimana kami bertemu secara tidak se ngaja. Gue ingat pertama kali kami berantem, yang dulu gue anggep sebagai suatu hal yang lucu. Lalu, gue inget bagaimana kami pertama kali baikan, dengan dua kelingking yang saling mengait dan sama sama mengaku bahwa kami salah. Gue ingat waktu masih ngebawain dia makanan. Gue ingat, dia membawakan gua makanan.lucu ya bagaimana semua putus cinta yang menyedihkan juga diwaali oleh jatuh cinta yang menyenangkan.


     Saat ini, gue jadi berpikir, proses pindah hati juga seperti pindah rumah. Terkadang, kita masih membanding bandingkan siapapun yang kita temui dengan mantan pacar. Ketika kenalan sama seseorang, kita membandingkannya dengan kebiasaan mantan pacar kita.

    Kita membandingkan, secara sadar ataupun tidak, cara mereka berjalan, cara mereka berbicara, bahkan cara mereka mengakhiri pembicaraan di telepon. Seperti lazimnya orang yang masih terjebak di dalam masa lalu, orang yang lebih baru pasti kalah dari mantan pacar kita yang sudah lama itu.

    Bagi gue, rumah adalah dia. Karena dia adalah tempat gue pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Sesuatu ynag bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan.

     Ini mungkin alasan kenapa susah banget buat gue untuk menemukan yang baru, karena perjuangan untuk pindah adalah perjuangan untuk melupakan. Ya, sudahlah. Bagaimanapun juga, kenangan kenangan yang memaksa untuk diingat itu harus dipakasa masuk ke kotak. Kardus terakhir gue tutup dengan lakban, gue angkat untuk bergabung dengan yang lainnya. Sambil berharap,tidak ada yang tertinggal.

     Waktu mungkin obat yang paling baik untuk semua luka setelah gue berdamai dengan masa lalu, gue baru bisa belajar untuk kembali punya hubungan.

No comments:

Post a Comment

J U S T I N F O

Loading...
Loading...